#TiapSaatUpdate, Jakarta - Sosok sang ayah bocah yang meninggal dunia secara mengenaskan oleh tetangganya sendirim Kartono (40), tidak menyangka nyawa anak tercintanya diambil begitu saja oleh seorang remaja berumur 16 tahun.

Kartono telah menganggap tetanggannya sendiri sebagai saudara.

Kartono bahkan menilai, APA sudah dianggap seperti anak sendiri oleh ibu tiri pelaku.

Dilansir TribunJakarta dari kanal YouTube Kompas Tv pada Senin, 9 Maret 2020, Kartono menuturkan keseharian korban dan pelaku yang kerap bermain.

Kartono mengaku, sang anak tiap hari-harinya selalu bermain di tempat pelaku dan tidak melihat adanya kecurigaan terhadap pelaku.

"Kita tidak pernah ada pikiran jelek apapun," ujar Kartono.

Lebih lanjut, Kartono mengakui keluarganya dengan keluarga pelaku sudah sangat dekat dan akrab.

"Memang benar-benar seperti saudara karena ibu pelaku baik sama anak saya, seperti anak sendiri," tegas Kartono.

Untuk itu, saat mengetahui putrinya dibunuh oleh NF, Kartono tampak shock dan terkejut. Kartono tidak menyangka buah hati kesayangannya meninggal dunia dengan cara yang tidak wajar.

Setelah jasadnya ditemukan, Kartono kemudian memakamkan APA.

Kartono menuturkan, akibat kejadian ini ia telah bertemu dengan ibu kandung pelaku saat di Polres.

Selama ini, pelaku diketahui tinggal bersama ayah kandung dan ibu tirinya.

"Kalau bapak kandungnya saya belum ketemu, ibu kandungnya saya bertemu di polres," tegas Kartono.

Ketika bertemu dengannya di Polres setempat, rupanya terdapat permintaan sang ibu kandung kepada Kartono.

"Yang diungkapkan ibu pelaku itu ya minta maaf," beber Kartono.

Mendengar permintaan itu, Kartono bereaksi dengan bijak.

Ayah sang korban bocah pembunuhan tersebut menegaskan, telah memaafkan perbuatan pelaku. Meski demikian, Kartono ingin proses hukum kasus pembunuhan sang putri tercintanya tetap berjalan.

"Untuk permintaan maaf, kita maafin dari ibu pelaku itu. Tapi kalau masalah pelaku, saya minta tetap ada hukumannya, diproses," imbuh Kartono.

Kronologi Pembunuhan

   Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Heru Novianto mengatakan, cara yang digunakan pelaku untuk menghabisi nyawa korban terbilang sangat sadis.

Pelaku pun langsung mengikat korban berinisial APA dan menyembunyikannya di dalam lemari pakaian di kamarnya.

"Awalnya mau dibuang, tapi karena sudah menjelang sore akhirnya disimpan di dalam lemari," ujarnya usai melakukan oalh tempat kejadian perkara, Jumat, 6 Maret 2020. Dikutip dari Tribun Jakarta.

Peristiwa aksi pembunuhan mengenaskan ini sendiri terjadi pada hari Kamis, 6 Maret 2020 sore sekira pukul 17.00 WIB.

"Besok paginya tersangka ini akan membuang tapi bagaimana caranya dia bingung. Akhirnya dia berangkat ke sekolah menggunakan pakaian seragamm" kata Heru.

Namun, bukannya pergi ke sekolah, NF ditengah perjalanan malah pergi menuju Polsek Metro Tamansari untuk menyerahkan diri.

Dihadapan pihak kepolisian, pelaku mengaku telah membunuh temannya itu yang masih berusia 6 tahun.

"Ditengah jalan dia tidak sekolah dan berganti pakaian preman yang sudah disiapkan dan pada saat itu dia melaporkan diri," tuturnya.

Dari hasil pemeriksaan sementara, Heru menyebut, pelaku terinspirasi adegan di film pembunuhan yang sempat ditontonnya.

"Tersangka melakukan dengan kesadaran dan dia terinspirasi kalau berdasarkan tadi kita wawancara, dia terinspirasi oleh film," ucapnya.

"Masih kita dalami, dari pengakuan dia pernah nonton setahun lalu. Tapi ini masih kita dalami karena ini unik," ucapnya.


CHUCKY | THE SLENDER MAN | FILM HOROR | AKSI PEMBUNUHAN SEORANG BOCAH DI SAWAH BESAR | JAKARTA PUSAT | DKI JAKARTA | YUSRI YUNUS