#TiapSaatUpdate, JAWAPOS.COM- SEPERTIbotek aku menyelinap masuk ke dalam rongga
sebatang pohon saat terdengar tembakan, disusul teriakan dan
jerit-tangis perempuan dan anak-anak. Bunyi tembakan itu terdengar tak
putus-putus, mirip letupan biji jagung yang digoreng di tungku tanah.
Karena takut, aku memejamkan mata. Tapi, suara-suara itu terus
terdengar, membuatku cemas. Pikiranku tertuju kepada orang tua dan
saudara-saudaraku di rumah.
Dengan terpaksa aku melongok ke luar, memandang ke lembah melalui celah batang pohon: Astagaaa…!
Di antara garis-garis pematang sawah yang dihiasi sisa jerami,
orang-orang berlari lintang pukang mencari tempat berlindung di bawah
pematang, di balik rumpun pisang, atau di bekas kubangan kerbau.
Beberapa orang terlihat berguling-guling, menggerakkan tangan dan kaki
seperti katak, lalu diam membeku seperti onggokan bebatuan di
sekitarnya.
Di antara mereka tampak si buntung, Kimin, menyeret-nyeret pahanya di atas bongkahan tanah tegalan, tempat ia mencari iwong ubi, sisa panen. (Sewaktu aku naik ke bukit tadi, aku memang melihat Kimin sedang menggali sisa ubi di ladang).
Saat
angin berembus menggerakkan sulur-sulur pepohonan, dari celahnya
terlihat sederet orang berseragam loreng di lereng bukit, menembakkan
senjata ke orang-orang di lembah, disusul kepulan asap tipis di udara.
Sesungguhnya
aku tak paham apa yang terjadi pagi itu. Usiaku masih terlalu muda
untuk memahami persoalan dunia seperti perang, politik, terorisme, dan
lain-lain. Setahuku, perang hanya ada di televisi dan potongan surat
kabar yang sesekali nyasar ke kampungku sebagai bungkus terasi atau
garam yang dibawa ibu dari pasar. Tidak pernah terlintas di benakku
bahwa kebiadaban semacam itu akan memorak-porandakan kampung kami,
apalagi sampai berwindu-windu.
Pagi itu, seperti biasa, kalau aku
bolos sekolah –karena takut pada pelajaran membaca–, ibu akan menyuruhku
mencari buah labu liar di lereng bukit. ”Daripada kamu sibuk main
layangan, lebih baik pergi cari bahan sayuran di bukit.” katanya. Karena
saban aku turun dari bukit, ibu akan tersenyum semringah melihat isi
keranjang di punggungku. Tak hanya labu liar dan pepaya muda, tapi juga
seikat kuling. Pernah juga aku kembali dari bukit sambil menggendong
anak babi yang masih merah, hingga aku dihujani pujian oleh orang
sekampung.
Kendati di sekolah aku sering tidak naik kelas, di mata
orang sekampung aku adalah anak yang hebat karena sejak kecil sudah
bisa membantu orang tua. Mengenai kelebihanku, Pu Ranggot, dukun beranak
yang membantu persalinanku, meramalkan bahwa kelak aku akan menjadi
orang besar (meskipun sampai sekarang aku belum paham maksud ramalannya,
yang menurutku terlalu mengada-ada).
Suara tembakan terus
terdengar siang-malam. Rasa takut meremas batang zakarku hingga aku tak
berani keluar dari rongga batang kenari. Lapar berbaur ngantuk membuatku
tertidur sambil berjongkok di atas serpihan kayu lapuk. Tetapi, setiap
hendak memejamkan mata, aku akan selalu dikagetkan oleh suara tembakan
di lembah. Akibatnya, sepanjang malam aku hanya duduk berjongkok di
dalam batang pohon sambil mendengarkan suara-suara malam yang ditingkahi
ratapan burung kuokuo di dahan kenari. Dalam keadaan ngantuk, semua itu
seolah terjadi di alam mimpi.
Saat terjaga di pagi hari, aku
nekat keluar dari lubang pohon, lalu memanjat pohon pepaya dan memetik
buahnya yang geroak dimakan codot. Sambil mengupas pepaya dengan golok
yang selalu menemani setiap ke bukit (kelak dengan golok itu aku menikam
beberapa tentara musuh), aku berharap ada orang kampung yang naik ke
bukit. Tapi, hingga menjelang petang berikutnya, tak seorang pun yang
datang. Sementara suara tembakan terus terdengar susul-menyusul dalam
tempo hitungan menit. Aku juga melihat kobaran api dari
bangunan-bangunan yang terbakar, termasuk rumahku, yang di pagi hari
tinggal tumpukan abu. Keadaan di bawah itu membuatku memutuskan untuk
tidak kembali lagi ke kampung. Terlalu berisiko. Lagi pula, hendak
pulang ke mana, rumah sudah jadi abu. Keberadaan keluarga juga tidak
jelas, masih hidup atau mati. Di mana mereka sekarang? Sejak itulah aku memutuskan untuk tinggal di hutan dan mulai menjadi ”siluman” yang hanya keluar di malam hari.
Lambat
laun aku telah tumbuh jadi orang liar, hidup dengan buah-buahan liar
dan binatang liar seperti kadal, tokek, codot, biawak, ular, dan
lain-lain. Atau mencuri makanan ke kampung yang kini dikuasai tentara
penjajah. Dari seorang bocah liar, secara cepat aku berubah menjadi
seorang pemberontak. Membunuh demi serantang nasi atau sebongkah roti
untuk menyambung hidup di dalam hutan yang tak layak dihuni manusia.
Mula-mula
aku membunuh tentara yang memergokiku saat mencuri nasi di dapur.
Kemudian seorang sersan yang sedang piket serta beberapa tentara lainnya
di tempat dan waktu yang berbeda. Karena aku masih kecil, bocah 12
tahun, mereka tak menaruh kecurigaan. Oleh karenanya, ketika mereka
lengah, aku langsung mengambil kesempatan, menikam perut atau leher
mereka dari belakang dengan golok yang telah kuasah di permukaan batu.
Setelah mereka tergeletak tidak berdaya dalam keadaan bersimbah darah,
aku pun merampas senjata dan barang-barang yang melekat di tubuh mereka,
termasuk tanda pangkat di pundak. Hingga di dalam lubang pohon yang
kini mirip ”gudang senjata” itu terdapat puluhan senjata berbagai jenis,
juga benda-benda lain seperti arloji, cincin, kacamata, korek gas, dan
lain-lain. Termasuk, setumpuk tanda pangkat.
Lima atau enam tahun
kemudian, aku mulai memiliki anak buah. Orang-orang kampung yang tidak
lagi memiliki rumah dan hidup telantar di jalan-jalan mulai ikut
bergabung denganku. Kami pun membentuk gerakan bawah tanah. Pada
waktu-waktu tertentu kami akan melakukan penyerangan ke markas tentara.
Selain membunuh musuh, kami akan merampas senjata dan merampok gudang
logistik. Hal itu kami lakukan setiap ada kesempatan, saat mereka
lengah.
Belakangan orang-orang telah mengenalku sebagai pemimpin
pemberontak. Kalangan tentara musuh menyebutku sebagai Jenderal ”Kancil”
karena usiaku yang masih belia, 16 tahun. Sedangkan orang-orang
sekampung, termasuk bekas teman-teman sekolahku, menyebutku ”Jenderal
Buta Hurup” karena mereka tahu aku tidak bisa membaca. Selama lima tahun
di SD, aku lebih sering tidak naik kelas sehingga tetap bertahan di
kelas II hingga pecah perang. ***
Puluhan tahun kemudian, di
sela-sela kesibukan menggarap sawah dan ladang untuk keperluan
penjajah, orang-orang kampung akan bercakap-cakap lirih tentang Tugil,
yang kini lebih dikenal sebagai Jenderal Buta Hurup. Setiap menyebut
nama Tugil alias Jenderal Buta Hurup, hati mereka akan berdebar-debar.
Sebab, dari tengah mereka telah lahir seorang pemimpin yang akan
membebaskan mereka dari perbudakan. Mereka merasa bangga dan dada mereka
akan membusung manakala menyebut nama Tugil, yang dikabarkan hilang di
hari penyerbuan itu. Intinya, Jenderal Buta Hurup telah menumbuhkan rasa
percaya diri mereka yang selama ini hidup tertindas.
Jenderal
Buta Hurup sangat ditakuti tentara musuh, kendati persenjataan mereka
supercanggih. Di mata tentara pendudukan, Jenderal Buta Hurup ibarat
”hantu” yang keberadaannya sulit diterka. Sebab, ia akan tiba-tiba
menyerang di waktu yang tak terduga. Kadang-kadang siang hari, di saat
tentara pendudukan istirahat makan siang. Dan yang membuat mereka selalu
waswas, setiap Jenderal Buta Hurup menyerang dengan pasukan silumannya,
korbannya tak pernah sedikit, selalu di atas seratus orang. Sehingga di
kalangan mereka terkenal sekali pendapat, ”Jenderal Buta Hurup tak akan
menyerang kalau korbannya di bawah seratus.” Akibat serangan-serangan
telak Jenderal Buta Hurup, tak kurang dari tiga komandan dan lima
jenderal telah jadi korban. Sedangkan perwira menengah sekelas kolonel
dan kapten sudah tak terhitung jumlahnya.
Konon, menurut data
intelijen pemerintah jajahan, sebagian anggota pasukan Jenderal Buta
Hurup berpakaian compang-camping dengan rambut awut-awutan mirip
bakeq-beraq penghuni hutan. Selain berpenampilan seperti gembel, mereka
juga buta hurup, tapi kemampuan mereka melebihi tentara profesional yang
telah mengikuti berbagai latihan. Mereka terbiasa berjalan dalam gelap
dan mengenal medan seperti mengenal urat tangan sendiri. Seorang anggota
pasukan Jenderal Buta Hurup yang berhasil terpantau kamera pengintai
malah ada yang bermata picek. Tapi, soal kemampuannya berlari dalam
gelap, jangan diragukan. Kakinya seakan punya mata sehingga tak pernah
tergelincir di lubang. Mereka juga akan dengan mudah muncul dan
menghilang di balik sebatang pohon atau selembar daun jati.
Tentang
kemampuan mereka berlari dalam gelap ini, memang sudah disebutkan dalam
naskah lontar orang Bukit. Menurut naskah lontar tersebut, leluhur
orang Bukit adalah para perampok. Tradisi merampok itu berlaku secara
turun-temurun hingga ribuan tahun kemudian. Sebelum seorang anak
laki-laki diajak merampok, ia akan dilatih berlari dalam gelap di
rawa-rawa, di atas batu berlumut di sungai, dan lain-lain. Selain itu,
mereka juga bisa menghilang di tempat terang seperti bayangan.
Kemampuan
itulah yang membuat tentara musuh sering merasa kewalahan ketika
berhadapan dengan tentara pemberontak yang bersembunyi di gua-gua di
sepanjang Pegunungan Megusang. Ilmu leluhur itulah yang membuat pasukan
Jenderal Buta Hurup sangat disegani.
Cerita-cerita tentang
kesaktian Jenderal Buta Hurup itu menjadi kebanggaan orang-orang Bukit.
Mereka akan menceritakan kisah itu secara berulang-ulang kepada
anak-anaknya. Seorang anak yang sedang menangis akan langsung terdiam
ketika ayahnya mulai bercerita tentang Jenderal Buta Hurup. Hingga
lambat laun kisah Jenderal Buta Hurup mulai menjadi cerita pelipur lara
di tengah kesengsaraan. Mirip mitos Ratu Adil atau Mesias.
***
Pada
suatu malam, dua atau tiga puluh tahun kemudian, Kopral Siwur, yang
matanya picek, datang tergopoh-gopoh. Semula orang-orang mengira ada
tentara musuh yang datang menuju markas mereka di tengah hutan.
”Malam, Komandan…” Siwur memberi hormat.
”Malam…”
”Lapor…! Ada wanita tua yang diusung pakai tandu naik ke bukit…” kata Siwur, lalu menyerahkan teropong ke tangan sang jenderal.
Jenderal
Buta Hurup mengarahkan lensa teropong melalui celah pepohonan. Tetapi,
karena terhalang daun-daun dan bayangan mendung, matanya tak bisa
melihat dengan jelas objek samar-samar yang bergerak di bawah cahaya
bulan yang juga samar-samar. Beberapa jam lalu Jenderal Buta Hurup
memang memerintahkan Regu Kancil yang berjumlah tujuh orang untuk
menyergap tentara musuh yang sedang memperbaiki pembangkit listrik.
”Malam, Dan…” Kapten Dagul yang muncul dari kegelapan memberi hormat.
”Ya, ada apa, Gul…?”
”Lapor…! Kami membawa ibunda komandan…”
Kata-kata
Kapten Dagul terdengar bagai mukjizat di telinga Jenderal Buta Hurup. ”Bagaimana mungkin orang tua yang telah kuperkirakan hilang
berpuluh-puluh tahun silam kini ternyata masih hidup?” pikir Jenderal
Buta Hurup yang langsung melompat-lompat seperti botek, menyongsong
ibunya yang tengah ditandu melewati terowongan di bawah hutan kaktus.
”Inaaaak…!” pekiknya seraya menangkap tubuh ibunya dari tandu, kemudian memeluknya.
”Tugil…” seru wanita itu dengan suara lirih, lalu meraba wajah anaknya yang dipenuhi bekas luka.
Malam
itu juga dilangsungkan upacara kenaikan pangkat kepada tujuh anggota
Regu Kancil yang sukses dalam operasi kilat. Jenderal Buta Hurup dengan
pakaian kebesaran keluar dari lubang pohon, disambut hormat senjata oleh
anak buahnya.
Mata wanita itu berkaca-kaca menyaksikan anaknya yang buta hurup menjadi jenderal. Mataram, 2019–2020
CATATAN: botek = anak monyet iwong = tunas dari ubi yang tersisa setelah dipanen kuling = jamur yang menempel di pohon mati bakeq-beraq = hantu, penunggu hutan
Adam Gottar Parra Lahir
12 September 1967 di Praya, Lombok Tengah. Menulis cerita pendek di
sejumlah media cetak. Karyanya juga dimuat dalam beberapa buku kumpulan
cerpen bersama.
0 Komentar