Nyinyiran Calon Mempelai soal Kapolsek Kembangan yang "Hanya" Dimutasi
#TiapSaatUpdate, KOMPAS.COM- Para calon mempelai ikut berang dengan viralnya kabar Kapolsek Kembangan Kompol Fahrul Sudiana yang menggelar resepsi pernikahan mewah pada 21 Maret 2020 lalu. Resepsi di Hotel Mulia, Jakarta Pusat itu memantik hujatan warganet
karena digelar setelah Kapolri Jenderal Idham Azis menerbitkan maklumat
yang mengatur pembubaran kerumunan massa untuk mencegah penularan
Covid-19, termasuk resepsi pernikahan. Revi (25), bukan nama
sebenarnya, salah satunya. Ia yang semestinya menggelar akad sekaligus
resepsi pada Minggu, 5 April 2020 mendatang geram karena dengan berat
hati telah menunda resepsi pernikahannya gara-gara maklumat tersebut.
Padahal, segala persiapan menuju resepsi tersebut sudah 95 persen. "Ketika
banyak pasangan di luar sana yang rugi mental, rugi uang, rugi waktu
karena harus mengundur resepsi pernikahan, ini malah ada seorang perwira
polisi yang seenaknya tetap mengadakan pernikahan sekaligus resepsinya
di tengah pandemi," kata Revi kepada Kompas.com, Kamis (2/4/2020). "Negeri
ini memang masih jauh dari kata adil ya. Yang mau nikah resepsinya
ditunda dulu, polisi pun ikut mengimbau. Polisi itu kan penegak hukum,
harusnya jadi panutan, jadi contoh masyarakat. Akhlaknya di mana gitu?"
tambah dia. Ia kemudian membandingkan lagi insiden resepsi pernikahan
Kompol Fahrul yang dengan sengaja mengundang banyak tamu dengan massa
yang sekadar berkumpul di jalanan kemudian dibubarkan oleh polisi.
Menurut Revi, kepolisian mestinya malu karena maklumat pimpinannya sendiri dilangkahi oleh anggotanya. "Menurut
saya, hukuman berupa mutasi dari itu cukup ringan, karena sikap perwira
polisi tersebut menurut saya sangat membuat malu instansi mereka,
apalagi viral," kata dia. "Banyak tuh menyebar imbauan Kapolri untuk warga tetap di rumah saja, eh malah anak buahnya yang enggak dengerin," tambah Revi. Senada
dengan Revi, Harto --juga bukan nama sebenarnya--, seorang pegawai
swasta (28) juga menganggap insiden resepsi pernikahan mewah Kompol
Fahrul adalah hal yang memalukan. "Bagaimana bisa anggota Polri sudah banyak terjun ke bawah, bubarin paksa pernikahan warga, bahkan pake acara bentak-bentak segala, tapi koleganya di waktu yang sama malah bikin resepsi besar-besaran kayak gitu?" ucap dia ketika diwawancarai Kompas.com, Kamis. "Paham sih ketegasan polisi sering enggak berlaku untuk sesamanya, tapi kan ini kondisinya lagi pandemi," tambah Harto. Ia juga memandang sebelah mata hukuman berupa mutasi jabatan yang dijatuhkan pada Kompol Fahrul gara-gara insiden ini. Harto
yakin, hukuman yang baru-baru ini dijatuhkan semata karena resepsi
pernikahan mewah Kompol Fahrul baru-baru ini pula viralnya dan
berpotensi mencoreng nama instansi. "Coba deh kalau tidak ada desakan
publik, kapolsek tadi enggak akan dihukum, sedangkan warga sudah rela
acaranya dibatalkan, walaupun pakai dibentak dulu," jelas dia. "Semoga ke depan kesetaraan itu bisa muncul tanpa didesak publik terlebih dulu," tutup Harto. Kapolsek
Kembangan Kompol Fahrul Sudiana dimutasi ke bagian analis kebijakan di
Polda Metro Jaya, baru setelah foto-foto resepsi pernikahannya viral dan
menuai hujatan warganet. "Berdasarkan perintah Kapolda Metro Jaya
sejak hari ini yang bersangkutan (Kompol Fahrul Sudiana) dimutasikan ke
Polda Metro Jaya sebagai analis Kebijakan," kata Kepala Bidang Humas
Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus dalam keterangan tertulis, Kamis
(2/4/2020) Fahrul dimutasi karena dinilai telah melanggar Maklumat
Kapolri Nomor Mak/2/III/2020 tentang Kepatuhan terhadap Kebijakan
Pemerintah dalam Penanganan Penyebaran Virus Corona ( Covid-19)
tertanggal 19 Maret 2020. Dalam maklumat itu, kegiatan perkumpulan
massa yang dapat dibubarkan di antaranya kegiatan konser musik, pekan
raya, festival, bazar, pasar malam, pameran, dan resepsi keluarga.
0 Komentar