#TiapSaatUpdate, HISTORIA.ID- Pada suatu pagi, setelah seminggu terus-menerus hidup seperti
dirundung malang, raja Lombok memanggil semua pejabat, pendeta dan
pangeran yang ada di Mataram. Raja mengatakan, selama beberapa hari
hatinya sangat sakit tanpa tahu penyebabnya.
“Aku telah bermimpi semalam Roh Gunong Agong, muncul di hadapanku dan berkata agar aku pergi ke puncak gunung,” kata raja.
Para
hadirin di hadapannya diperbolehkan untuk ikut mengiringi kepergiannya
hingga mendekati puncak. Namun ia harus melanjutkan pendakian seorang
diri agar Roh Gunung Agung yang bersemayam di puncak gunung mau muncul
di hadapannya.
“Ia akan mengatakan sesuatu yang penting bagiku,” ujar raja.
Persiapan
pun dilakukan. Rombongan kerajaan berangkat pagi-pagi. Empat hari
berlalu sampai raja harus mulai mendaki gunung dengan hanya diikuti
rombongan kecil pendeta dan pangeran serta pembantu.
Begitu
mendekati puncak, raja memerintahkan para pengikutnya berhenti. Ia akan
meneruskan perjalanannya dengan ditemani dua bocah pembawa kotak sirih.
Puncak
gunung berada di tengah bebatuan dan di pinggir kawah yang berasap.
Sampai di sana, raja meminta kotak sirihnya dan menyuruh dua bocah tadi
duduk diam sambil melihat ke bawah gunung. Raja pun menemui sang Roh
Gunung Agung seorang diri.
Tiga hari kemudian raja memanggil para
pendeta, pangeran, dan para pembesar di Mataram. “Roh Agung telah
berseru kepadaku,” kata raja. “’O Raja! Banyak wabah penyakit dan
bencana akan melanda bumi, melanda manusia, melanda kuda dan ternak.
Tetapi karena kau dan rakyatmu mematuhiku serta talah datang mendaki
gunungku yang agung, aku akan memberitahukan cara menghindarinya’.”
Raja
pun berkata, Roh Gunung Agung memerintahkan mereka untuk membuat 12
keris keramat. Bahannya dari jarum yang jumlahnya mewakili jumlah
penduduk di tiap desa. Satu jarum mewakili satu penduduk. Bila suatu
penyakit yang berbahaya muncul di suatu desa, maka salah satu keris akan
dikirim ke desa itu.
“Jika jumlah jarum yang dikirim tak sesuai
dengan jumlah penduduk, keris yang dikirim tidak akan berkhasiat
apa-apa,” jelas raja.
Dengan segera semua kepala desa mengumpulkan
jarum. Setelah semua desa mengumpulkan, raja membagi kumpulan jarum itu
ke dalam 12 bagian yang sama banyaknya. Lalu ia perintahkan pandai besi
terbaik di Mataram untuk menjadikannya keris. Tiap keris dibungkus
dengan kain sutra. Semuanya disimpan sampai pada saat nanti dibutuhkan.
Naturalis Inggris Alfred Russel Wallace menceritakan kisah itu dalam bukunya The Malay Archipelago. Wallace melakukan perjalanan ke Lombok pada 1856 di tengah ekspedisinya berkeliling Nusantara.
Ada
maksud tersembunyi di balik pembuatan keris itu. Raja Lombok sebenarnya
ingin juga mendapatkan data jumlah penduduk untuk disesuaikan dengan
perolehan upeti yang seharusnya ia terima. Kendati begitu, “sabda” Roh
Gunung Agung tetap saja dipercayai.
Kehadiran 12 keris keramat
membawa arti besar. Bila wabah penyakit muncul di suatu daerah, salah
satu keris dikirimkan. Bila wabah mereda, keris dikembalikan dengan
upacara penghormatan.
Kepala desa lalu akan bercerita kepada raja tentang tuah keris itu. Sembari mereka mengucapkan terima kasih.
Bila
penyakit tak hilang, semua orang yakin ada kesalahan dalam jumlah jarum
yang diserahkan oleh kampung itu. Karena kesalahan itu, keris keramat
tak mampu melawan penyakit yang melanda kampung. Maka harus dikembalikan
kepala desa dengan berat hati.
“Walaupun demikian rasa hormat
terhadap keris itu tidak berkurang karena mereka yakin kegagalan itu
disebabkan oleh kesalahan mereka sendiri,” catat Wallace.
Dari
penuturan Wallace, peran Roh Agung Gunung begitu besar dalam menentukan
sikap masyarakat Lombok menghalau wabah penyakit. Kendati dalam kisah
itu tak jelas wabah penyakit apa yang menjangkit, rupanya orang Sasak
masih memberikan penghormatan yang sama pada sang penguasa gunung.
Mereka mengenal tradisi menjamu dewi penguasa Gunung Rinjani untuk
menjinakkan penyakit, khususnyacacar. Tolak Bala Suku Sasak
Lalu Wacana, dkk.dalam Upacara Tradisional yang Berkaitan dengan Peristiwa Alam dan Kepercayaan Daerah Nusa Tenggara Barat menjelaskan, secara umum orang Sasak di Lombok mengenal upacara tolak bala untuk mengusir wabah penyakit. Ritualnya disebut metulak.
Metulak, kata dalam bahasa Sasak, yang artinya: tulak (kembali)dan metulak (mengembalikan). “Arti kiasannya menolak bala, yang dalam bahasa Sasak bahla,” jelas Lalu. Dalam sebutan lain tolak bala disebut tulak bahla. Bahla artinya wabah.
“Maksud upacara metulak
ini adalah untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar dijauhi dari
segala marabahaya dan wabah yang dapat menimpa tanaman padi dan
manusia,” tulisnya. Upacara
ini biasanya dipimpin oleh orang yang dituakan. Baik itu karena umur,
ilmu dan pengalamannya. Mereka harus memahami betul tata upacara metulak.
Tak diketahui pasti sejak kapan dimulainya upacara metulak
dilakukan. “Dari beberapa orang informan hanya menerangkan bahwa
tradisi ini telah berkembang sejak nenek moyang mereka,” jelas Lalu.
Yang jelas, setidaknya ada enam peristiwa dalam hidup orang Sasak yang akan diiringi dengan prosesi metulak.
Yaitu saat seseorang atau anggota keluarga tertimpa sakit, pendirian
dan penempatan rumah baru, potong rambut bayi, menjelang keberangkatan
haji, wabah penyakit cacar (ngayah) menyerang, dan padi mulai berisi. Dalam bentuk yang lebih sempit, dikenal pula upacara Besentulak. Ini pun upacara tolak bala. Tapi kalau besentulak terbatas untuk suatu keluarga yang mengadakan upacara itu saja.
“Diadakan pula pada waktu wabah cacar sedang berjangkit. Wabah cacar dalam bahasa Sasak disebut ngayah,” jelas Lalu.
Dalam Sejarah Daerah Nusa Tenggara Barat
yang disusun Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah,
disebutkan kalau pada masa kolonial kesejahteraan rakyat kurang
diperhatikan, terutama kesehatan. Dalam periode-periode tertentu
penyakit epidemi selalu berulang, seperti cacar.
Dewi Anjani Sang Penguasa Cacar
Masyarakat
Sasak punya perhatian khusus terhadap penyakit cacar. Mungkin karena
wabah ini pernah menjadi yang paling ditakuti di wilayah Asia Tenggara.
Ia menyebar termasuk sampai ke Nusantara. Hal itu banyak diungkap dalam
catatan dari masa setelah abad ke-16.
Sejarawan Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 1: Tanah di Bawah Angin
menyebutkan, misalnya cerita dari abad ke-17 tentang didirikannya
Ayutthaya pada abad ke-14. Kisah itu menyebutkan adanya janji bahwa kota
itu bebas dari cacar.
Lalu ada lagi Undang Undang Hukum Melaka
yang disusun Kesultanan Malaka pada abad ke-15-16. Disebutkan bahwa
penyakit kulit yang akut dibolehkan menjadi alasan perceraian atau
penolakan pembelian seorang hamba sahaya.
Bukti dari abad ke-16
dan ke-17 lebih banyak tersedia. Misalnya dalam catatan orang Portugis
dan Spanyol yang menyebutkan penyakit cacar sebagai pembunuh penduduk di
Maluku, Filipina, dan Ternate (1558), Ambon (1564), Balayan, Filipina
(1592), dan Pegu (Birma Bawah) pada abad ke-17.
Menurut Reid, di
berbagai pusat penduduk dan perdagangan yang besar, cacar mungkin sudah
menjadi endemik,terutama pada abad ke-16. Yang menjadi korban terutama
anak-anak yang belum memiliki kekebalan. Penyakit itu bangkit setiap
tujuh hingga sepuluh tahun.
Sebaliknya, kata Reid, pada penduduk
yang lebih terpencil, seperti di Borneo dan Filipina, cacar menjadi tamu
yang tak begitu sering berkunjung. Namun tetap ditakuti. Penyakit ini
menelan sebagian besar penduduk yang belum pernah kena.
“Roh cacar banyak berperan dalam mitos rakyat, terutama di Borneo,” katanya.
Di
Lombok, kata Lalu, orang Sasak menganggap cacar sebagai rahmat Tuhan
yang bersifat menguji iman dan ketakwaan umat manusia. Karenanya wabah
ini tak dimusuhi, tetapi justru dijinakkan dengan jalan dijamu.
Mereka mengenal upacara tolak bala yang disebut nemoe artinya menjamu tamu. Ini berbeda dengan arti tolak bala yang berarti mengusir jenis penyakit lain selain cacar.
Yang dijamu adalah Dewi Anjani. Ia adalah ratu, makhluk gaib terpenting yang bersemayam di Puncak Gunung Rinjani.
“Menurut kepercayaan suku bangsa Sasak, dewi ini menguasai wabah penyakit cacar sebagai piaraannya,” kata Lalu.
0 Komentar