#TiapSaatUpdate, STORIAL.CO - Salah satu alasan Bu Rombe pindah ke Jawa Timur adalah karena dia membuka pabrik baru. Pabrik pembuatan bego (karung beras dari kain). Pabriknya tidak jauh dari Desa Wingit tempatnya tinggal kini. Pabrik itu sendiri, sudah berdiri setahun sebelum Bu Rombe sekeluarga pindah. Bu Rombe memantau produksi dari Jakarta. Di pabrik baru ini, dia punya orang-orang kepercayaan yang dia bawa dari Sumatera.

Tidak ada bisnis yang tidak punya saingan. Dari minggu pertama Bu Rombe datang, hampir tidak sehari pun dia lewati tanpa mengunjungi pabrik. Ada masalah. Salah satu karyawannya membelot. Membocorkan rahasia perusahaan kepada pesaing juga menggondol uang ratusan juta. Bu Rombe kesal bukan main. Dia meminta bantuan kerabat dari Sumatera untuk melacak orang itu. “Cari sampai ketemu! Biar dia tahu, jangan main-main dengan Rombe.”
Karyawan dan orang kepercayaan dari Sumatera, jarang melihat Bu Rombe senaik pitam itu. Tentu saja naik pitam. Rahasia perusahaan bocor. Itu bisa jadi perkara hukum. Namun, Bu Rombe tidak mau mengambil jalur itu. Pelajaran yang akan diterima orang itu di luar hukum. “Kalau perlu santet saja dia,” kata Bu Rombe saking kesalnya.

Bawahannya mendengar itu sampai merinding. Bu Rombe yang anggun, bisa berkata demikian. Orang-orang dekat dari Sumatera, mencoba menenangkan Bu Rombe. Mereka berjanji akan menemukan orang itu. “Potong tangannya sebelum kalian membawanya kepadaku.”

Demi mengganti kerugian yang terjadi, Bu Rombe menelepon adiknya untuk membantu di pabrik. Johan, dari Jakarta. Selagi Bu Rombe di Jawa Timur, pabrik yang di Jakarta dikelola Johan. Sekalian saja Johan membawakan anjing-anjing kesayangan Rachel.

“Sudah, kakak tidak usah khawatir, dalam satu bulan, kerugian itu akan tergantikan. Percaya dengan Johan,” kata Johan saat bertemu Bu Rombe di pabrik.

“Terima kasih Joh, apalah kakak kalau tidak ada kamu.”

“Wanita tangguh. Itulah kakak.”

“Dan kejam, rasanya. Entah setan apa yang merasukiku, aku minta mereka mengejar orang itu dan membawanya padaku hanya kalau tangannya sudah dipotong.”
 
“Seram kali, Kak.”

“Jadi, kau akan menginap lama di rumah baruku?”

“Sehari semalam saja cukup, Kak. Setelah itu, aku cari penginapan lain saja.”
 
“Kenapa kau?”

“Rumah kakak menyeramkan.”

Bu Rombe tertawa lalu mencuih. “Peninggalan Belanda, tapi tidak ada apa-apa kok di sana.”

“Justru karena peninggalan Belanda, pasti ada apa-apanya.”

“Ya sudah terserah kau saja. Paling tidak menginaplah tiga hari. Kau akan semingguan kan di sini?”

“Dua hari bolehlah Kak.”

“Oke kalau begitu. Kau memang bisa diandalkan.”

Dalam seminggu itu Johan akan membantu membuat rencana jangka panjang. Merancang efisiensi pengerjaan bego sehingga dalam sebulan bisa memroduksi banyak. Jadi, bisa menutup kerugian. Setelah itu, Bu Rombe cukup memantau.

Selama Johan di sini, entah kenapa Bu Rombe terserang migrain. Seperti saat hari pertama datang dan Bu Ningsih membersihkan kamar-kamar. Di pabrik, Bu Rombe minum parasetamol tiga kali sehari. Dia tidak bisa meninggalkan pabrik sore-sore. Selama Johan di sini, dia pulang sekitar jam 9 malam. Pulang ke rumah sudah lelah, tetapi tetap dia sempatkan untuk menyapa anak-anak yang biasanya belajar sampai jam sepuluh. Sakit kepala membuatnya tidak ingin mengikat rambut. Dia biarkan rambut keriting panjangnya mengembang. Lalu dia oleskan krim wajah yang disimpan di kulkas, biar wajahnya dingin. Dia kenakan daster putih kombor tanpa pakaian dalam. Biar sejuk.

Bu Rombe berjalan santai mengelilingi rumah. Itu dilakukan agar dia dan rumah menjadi akrab. Ini yang sering dilakukannya di mana pun ketika baru pindah. Meski ia tidak bisa melihat apa yang tidak kasatmata, dia percaya di mana pun, selalu ada penghuninya. Dia harus minta izin, ramah kepada penghuni itu, agar perlahan-lahan mereka akan pergi.

Sejak dahulu, Bu Rombe melarang dirinya dan sekeluarga berkata-kata kasar saat di rumah. Nanti takut ada yang tidak berkenan. Bu Rombe percaya Rachel bisa menjaga mulut. Lain hal dengan Tomi. Anak itu pemurung dan suka berkata ketus. Berdasarkan laporan Bu Ningsih dan pemantauannya sendiri, Tomi belum berkata kasar.

Barang-barang di rumah ini memang cukup menambah nuansa mistik. Bu Rombe berani bertaruh, kalau dia membuka rumah ini untuk media, pasti akan ada acara uji nyali yang meminta untuk memakai rumah ini. Tahun-tahun belakangan ini lagi marak acara semacam itu di televisi. Di pabrik, karyawannya suka menonton itu kala istirahat sif malam. Kadang-kadang, ada yang mengaku melihat penampakan di pabrik.

Selagi berkeliling rumah di malam hari, samar-samar Bu Rombe mendengar lagi suara ketukan. Seperti yang pernah didengarnya tempo lalu. Dia ikuti suara itu. Asalnya dari dapur. Oh ternyata, ekor Donjon, mengenai pintu kayu. Saat melihat Bu Rombe, Donjon menyalak gembira. Diaa jadi mengikuti Bu Rombe keliling rumah. Bu Rombe senang ditemani Donjon.

Bu Rombe kemudian masuk ke pintu menuju ruang bawah tanah. Di bawah sana ada sumur tempat mandi serta beberapa kamar. Dia lupa, tempat ini belum dibersihkan dengan sempurna. Bu Rombe tidak jadi turun sampai dasar. Ketika pintu ditutup, terdengar suara air mengalir.

Sebelum tidur Bu Rombe mencuci tangan dan kaki terlebih dahulu. Dia percaya, tangan dan kaki yang bersih bisa menghindarkan dari mimpi buruk. Sebelum naik ke tempat tidur, Bu Rombe berdoa dengan berlutut di samping tempat tidur. Tidak butuh waktu lama bagi Bu Rombe untuk terlelap.

Mimpi membawanya ke suatu ruangan di dalam rumah ini. Ruangan yang besar. Kosong dan temaram. Dindingnya menjulang tinggi dengan cat yang mulai terkelupas dan berlumut. Di salah satu sudut, tampak lebih gelap dari yang lain. Suasana dalam ruangan itu membuat Bu Rombe antara takut dan merasa diterima. Mengancam, tetapi menyambut.

Lalu sesuatu muncul.

Dari sudut tergelap itu. Enam sosok putih tinggi menjulang bagai bayangan yang disorot senter dengan sudut yang tepat. Bu Rombe terkejut, dia bergerak mundur. Enam sosok putih itu perlahan mendekatinya. Makin tinggi dan makin tinggi. Tangan dan kaki mereka panjang. Kepala mereka, seakan merentang, membuat lubang mata dan lubang mulut mereka memipih panjang. Dua belas tangan putih panjang mereka menggulung Bu Rombe.

Bu Rombe terjaga. Dia terduduk di tempat tidur. Dia menoleh ke sekitar. Tangan-tangan putih itu kini muncul dari kolong. Merangkul Bu Rombe dari bawah. Bu Rombe terbaring lagi. Dia panik, tetapi tidak bisa berteriak. Dia berguling dan terjaga lagi seketika. Bu Rombe bangun dari mimpi lapis keduanya. Dia terengah-engah. Telinganya berdenging.

Dengingannya samar-samar membentuk kalimat. “Kami menerimamu.” Terucap berulang-ulang dalam lantunan yang lirih. Seperti lagu lingsir wengi.

Bu Rombe tidak menyadari ternyata Donjon ikut tidur di kamarnya. Tepat ketika dia terjaga, Donjon menyalak ke sudut kamar. Lalu berlari berputar-putar tidak keruan dan mengejar entah apa ke bawah kolong tempat tidur. Bu Rombe akhirnya mengajak Donjon keluar kamar, membawanya ke kamar Rachel. Supaya bergabung dengan Jansen dan Hansen.

Kemudian Bu Rombe melanjutkan tidur. Di mimpi berikutnya dia tidak lagi dibawa ke ruangan itu. Mimpinya hanya mimpi biasa.

Mimpi itu datang lagi ketika Johan pamit kembali ke Jakarta. Bedanya ruangan yang sebelumnya berubah jadi lebih sempit. Dan sosok putihnya semakin banyak. Jadi delapan. Mereka berdiri menjulang dan ramping. Hampir-hampir pipih. Mereka hening mengawasi Bu Rombe. Setiap kali mendapati mimpi itu, ketika terjaga Bu Rombe berlama-lama agar tidak tidur kembali. Dia berkeliling rumah lagi. Lampu di dalam rumah menyala temaram, sehingga bisa jadi, orang di luar sana melihat Bu Rombe yang mondar-mandir sebagai kuntilanak.

Samar-samar, Bu Rombe seperti melihat ada yang bergerak di dapur dan di ruang tamu. Seorang wanita. Bu Rombe mendatangi dapur dan juga ruang tamu. Dia tidak mendapati sosok itu.

Sudah lima hari berturut-turut Bu Rombe kedapatan mimpi seperti ini. Dia menceritakan hal itu kepada Bu Ningsih ketika dia pulang sore dari pabrik. Bu Ningsih tidak memberikan tanggapan apa-apa selain “hanya bunga tidur Bu.”

Berapa kemungkinannya sih, mimpi yang sama datang berturut-turut dalam lima malam? Bu Rombe lama-lama jengah. Suara itu masih terus saja terngiang. “Kami menerimamu.” Bahkan di siang hari, suara itu terus saja berdenging di telinganya. Ssejak kepulangan Johan ke Jakarta, Bu Rombe lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Dia sampai lupa pengkhianat pabrik belum ditemukan.

Sampai di suatu sore. Di lorong lantai satu, apa yang ditemui Bu Rombe dalam mimpi muncul di alam nyata. Bu Rombe mempertanyakan matanya. Bukankah selama ini dia tidak pernah melihat makhluk gaib?

Tujuh sosok putih itu menjulang tinggi di ujung lorong yang gelap. Samar-samar, sosok wanita yang pernah Bu Rombe lihat, bergerak dari pintu kamar satu ke kamar lain di lorong itu. Sosok itu, persis seperti potret tunggal di ruang tamu. Sosok-sosok putih tinggi mengikutinya. Lalu lenyap di pintu yang paling dekat dengan Bu Rombe.

“Kami menerimamu.”

Bu Rombe bangun dari tidur siangnya dengan kepala berdentum-dentum.

DEPOSIT PAKE PULSA | DEPOSIT VIA PULSA | DEPOSIT VIA OVO | DEPOSIT VIA GOPAY | DEPOSIT VIA DANA | DEPOSIT VIA TELKOMSEL | DEPOSIT VIA XL | DEPOSIT VIA AXIS | VIRUS CORONA | VIRUS KORONA | CORONAVIRUS | CORONA VIRUS DESEASE 2019 | COVID-19 | #DIRUMAHAJA | #DIRUMAHSAJA | LOCKDOWN | LOCKDOWN TOTAL | LOCKDOWN INDONESIA