Serial Oshin yang Menguras Air Mata dan Dinantikan Pemirsa
#TiapSaatUpdate, TIRTO.ID- Shin Tanokura bukannya hadir dalam pembukaan tokonya yang ke-17, ia
malah melakukan perjalanan jauh dengan kereta api. Cucunya menyusul dan
menemukan Shin Tanokura di sebuah tempat yang baginya penuh nostalgia.
Perempuan
sepuh itu hendak mengenang masa lalunya yang tidak hanya penuh liku,
tapi juga menguras air mata. Itulah kisah pada episode awal dari serial Oshin yang
mulai tayang pada 4 April 1983, tepat hari ini 37 tahun lalu, di
stasiun televisi Jepang Nippon Hōsō Kyōkai (NHK). Serial itu berakhir
pada 31 Maret 1984.
Oshin yang Selalu Kerja, Kerja, Kerja
Oshin
adalah panggilan kecil Shin Tanokura. Ia lahir di awal abad XX sebagai
anak petani miskin yang begitu susah menyediakan nasi untuk makan
keluarga. Oshin tumbuh sebagai anak yang rajin, penurut, serta mengerti
kesulitan orangtua.
Demi membantu kebutuhan pangan
keluarganya--yang terdiri dari ayah, ibu, adik, kakak, serta
nenek--ia rela bekerja jadi pelayan di rumah seorang saudagar kaya.
Meski baru berusia tujuh tahun, namun Oshin berusaha bekerja sebaik
mungkin.
Seorang guru sekolah dasar yang simpati padanya, membujuk
majikan Oshin agar bocah tersebut diperbolehkan ikut belajar sambil
mengasuh bayi majikannya. Oshin sempat ikut belajar sebentar, sebelum
akhirnya mundur karena teman sekelasnya.
D rumah majikannya, Oshin
kerap dikasari oleh pembantu yang lebih tua. Namun, Oshin mampu menahan
diri. Kesabarannya baru habis ketika ia dituduh mencuri uang, yang
membuat Oshin pergi jauh melewati badai salju yang hampir membunuhnya.
Dalam perjalanan yang berat, Oshin ditolong oleh seorang desersi Tentara
Kekaisaran Jepang yang bernama Shunsaku.
Oshin yang tak sadarkan
diri dibawa ke pondok persembunyian. Tak hanya dapat makan dan tempat
tinggal, ia juga diajari membaca dan menulis selama musim dingin.
Setelah salju mencair, Oshin disuruh pulang.
Sepeninggal Oshin,
Shunsuka dihabisi tentara Jepang. Sementara Oshin bisa sampai ke
rumahnya dan tinggal sebentar bersama keluarga. Setelah itu, ia pergi
lagi untuk kembali bekerja di rumah keluarga kaya yang lain, yakni
keluarga Kagaya.
Di keluarga tersebut, Oshin bekerja cukup lama
hingga berusia 16 tahun. Ia sempat dimusuhi oleh Kayo, anak perempuan
keluarga itu yang seumuran dengannya. Namun, Kayo akhirnya menjadi kawan
dekat Oshin. Di keluarga ini, Oshin bernasib lebih baik.
Majikannya menyayanginya dan mengajarinya banyak hal. Setelah
berhenti bekerja dari keluarga Kagaya, Oshin sempat dipaksa
ayahnya untuk bekerja di bar. Berkat bantuan ibu serta kakaknya, ia
kemudian bisa pergi ke Tokyo untuk belajar jadi penata rambut.
Menikah dan Bekerja Lagi Oshin
sempat terlibat cinta segitiga dengan Kayo dan Kota Takakura. Namun
Oshin akhirnya menikah dengan Ryuzo Tanokura. Setelah menikah,
seharusnya perempuan Jepang tidak boleh bekerja lagi, tapi kondisi
keuangan suaminya seret yang membuatnya harus kembali bekerja.
Suami
Oshin sebetulnya berasal dari keluarga yang cukup kaya. Hal ini
kemudian membuat mertuanya bersikap dominan karena tidak suka kepada
Oshin yang berasal dari keluarga miskin.
Berkat bantuan Kayo,
kawan dekatnya, dengan susah payah Oshin akhirnya mampu membuka
restoran. Namun nasib malang belum usai menimpanya. Restoran Oshin kerap
dikunjungi para pemabuk sake dan gangguan anggota Yakuza.
Di
tengah kejayaan militer Jepang, suami dan anak Oshin adalah pendukung
setia militerisme. Sementara Oshin, sebagaimana dulu pernah
diajarkan oleh Shunsaku sang desersi, berusaha tidak ikut-ikutan dan
menjadi diri sendiri.
Anak Oshin ikut jadi bagian armada Jepang
dalam Perang Asia Timur Raya. Hal itu membuat Oshin merana. Di akhir
perang, di saat Jepang kalah, suaminya bunuh diri. Oshin sengsara lagi
dan harus melawan keterpurukan ekonomi keluarganya. Kerja
kerasnya berbuah manis: ia berhasil menjadi pengusaha sukses.
Dalam
serial tersebut, dari kecil hingga tua, secara berurutan Oshin pernah
diperankan oleh Ayako Kobayashi, Yuko Tanaka, dan Nobuko Otowa. Peran
Ayako Kobayashi sebagai Oshin kecil amat berkesan dan terus diingat
orang.
Pada Oktober 2013, Oshin versi film dirilis. Film ini hanya
fokus pada masa kecil Oshin yang diperankan oleh Kokone Hamada. Kisah
Oshin si pekerja keras rupanya menarik minat banyak penonton. Serial
sepanjang 297 episode—yang tiap episode berdurasi 15 menit
ini—berkali-kali ditayangkan di Jepang dan negara-negara berkembang di
Asia dan Amerika latin.
Di Indonesia, Oshin ditayangkan
sejak November 1986. Para pemirsa TVRI selalu menanti penayangannya.
Orde Baru menggunakan serial ini untuk mendidik rakyat Indonesia agar
tegar dalam menghadapi penderitaan hidup dan tak kenal menyerah, serta
maju seperti Oshin.
Oshin dalam Kehidupan Nyata
Kisah Oshin terinspirasi dari sosok nyata dalam dunia bisnis Jepang. Majalah Asia Week volume 19 (14/04/1993) menyebutkan bahwa Oshin adalah gambaran kehidupan Katsu Wada yang wafat pada 28 Maret 1993.
Kisah asli Katsu Wada sebetulnya tidak semenderita Oshin, meski sama-sama pekerja keras. Peter B. Clarke dalam Japanese New Religions in Global Perspective (2013:51) menyebut Katsu Wada lahir pada 1906 dari pasangan pedagang sayur.
Orangtuanya
menjalankan warung sayur kecil bernama Yaohan di Odawara, sebuah kota
kecil di Prefektur Kanagawa—100 km dari Tokyo. Mereka hendak menikahkan
Katsu Wada dengan pegawai warungnya yang bernama Wada Ryohei. Katsu tak
suka rencana orangtuanya, dan hendak ke peramal terlebih dahulu.
“Aku
diberitahu bahwa laki-laki ini, Wada Ryohei, mungkin terlihat seperti
kerikil yang kusam dan kasar, tetapi itu istimewa, dan pada saatnya ia
akan bersinar seperti salah satu berlian di jari saya,” ujar Katsu
Wada seperti dikutip Japan Times (15/12/1991).
Katsu lebih
tertarik menjadi guru ketimbang melanjutkan bisnis keluarga. Namun, ia
akhirnya meneruskan bisnis orangtuanya. Majalah Asia Week volume
19 (14/04/1993) menyebutkan bahwa Katsu dan Wada Ryohei membuka toko
kelontong pertama pada 1930. Setelah itu, bisnis mereka berkembang
menjadi salah satu pengecer asal Jepang yang paling aktif di Asia.
Majalah Tempo (24/10/1992) menyebut Yaohan pernah membuka department store di Indonesia, tepatnya di kawasan Senen pada September 1992. Bondan Winarno pun menyebut dalam Kiat Menjadi Konglomerat: Pengalaman Grup Jaya (1996:65) bahwa toserba Yaohan menjadi penyewa besar di pusat perbelanjaan Senen.
0 Komentar